SEKILAS INFO
04-06-2020
  • 1 bulan yang lalu / Penilaian Akhir Tahun dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2020 – 19 Mei 2020 – dimohon peserta didik untuk mempersiapkannya.
28
Apr 2020
0

Pandemi Coronavirus (Covid19) belum juga menunjukkan ujungnya. Masa swakarantina diri menjadi semakin panjang. Saat ini,  Jutaan siswa terpaksa belajar dari rumah secara daring. Pun demikian dengan jutaan gurunya : teaching from home. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di hampir seluruh dunia. Terlebih lagi virus Corona telah menyebar ke 181 negara.

Pembelajaran daring menjadi semacam “revolusi” atas wajah persekolahan kita di tengah pandemi Covid19. Bilik rumah menjadi kelas-kelas virtual.  Platform pembelajaran secara masif digunakan sebagai sumber dan media belajar. Dari yang sederhana semacam WAG (What’sup Group) hingga Microsoft Team dan Google Classroom. Berkembangnya startup dan platform pembelajaran sedikit banyak telah menggeser fokus pengajaran dari interaksi fisik (analog) tatap muka di kelas konvensional menuju pedagogi siber, interaktif, konstruksionis.

Sejauh ini, campuran pembelajaran (blended learning) sudah banyak digunakan oleh sekolah. Memadukan antara pedagogi kurikulum tradisional dengan siber, Campuran pembelajaran ini mendorong siswa dan guru memiliki banyak ragam sumber dan materi belajar yang bisa digunakan. Pengalaman belajarpun menjadi lebih luas, kaya konten dan kolaboratif.

Disisi lain, euforia pembelajaran daring tidak sedikit menuai kecamanan. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), misalnya, menengarai bahwa pembelajaran daring selama masa swakarantina sekadar memberi tugas. Proses pembelajaran yang sejati: interaksi siswa dengan siswa atau siswa dengan guru belum terjadi. Siswa “mabuk” tugas hingga membuatnya tertekan dan stress. Alih-alih membelajarkan siswa secara daring, siswa justru ingin balik ke ruang kelas konvensional. Banyak siswa merasa lebih nyaman belajar di kelas bersama guru dibanding pembelajaran daring. Baginya pembelajaran daring tidak lebih dari sekedar  mengalihkan tugas secara online. Minim interaksi dan hanya berkutat dalam kesepian dan kesendirian. Pembelajaran online yang tidak mengidahkan potensi dan cara belajar siswa secara tepat ini bagai pisau bermata dua,  benarkah?

Pedagogi siber bukan semata-mata penggunaan teknologi (platform) belajar dalam aktifitas pembelajaran di sekolah/rumah. Pedagogi siber lebih pada bagaimana cara siswa  belajar atau bagaimana guru membelajarkan siswa. Dalam kontek ini, teknologi tidak dipandang sebagai tuan melainkan hanya sekedar alat bantu untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan berkualitas. Pedagogi siber semestinya menggeser paradigma kita tentang belajar. Belajar bukan hanya sekedar mengerjakan tugas dan mengumpulkannya tepat waktu. Membelajarkan siswa bukan sekedar menulis link materi dan kemudian meminta siswa untuk membukanya. Pembelajaran lebih luas dan melampaui aktifitas semacam itu. Belajar online harus mendorong dan mengembangkan kecakapan dan daya nalar siswa. Belajar secara online harus mampu menumbuhkan kemandirian belajar tanpa meninggalkan kemampuan untuk berkolaborasi dan berinteraksi dengan siswa dan pihak lain. Dus, pembelajaran online dengan memberi tugas yang dapat dengan mudah dicari jawabannya di google dan mesin pencari lainnya sudah harus dihindari. Pembelajaran yang sekedar memberi tugas individu harus diminimalisir dengan tugas berbasis proyek, berbasis masalah atau penyingkapan dengan model kerja kolaboratif. Pembelajaran yang hanya sekedar mengejar target selesainya Kompetensi Dasar (KD) harus diubah menjadi pembelajaran yang menumbuhkan  dan mengembangakan kompetensi penting sesuai tuntutan zaman.Oleh karenanya, menjadi sangat penting mendesain pembelajaran yang memberi ruang siswa untuk mengeksplorasi kondisi kekinian, dengan tanpa mengenyampingkan kompetensi terkait. Bertumbuhnya kemampuan  berfikir kritis  dan kreatif siswa dalam memahami situasi akhir-akhir ini menjadi lebih bermakna. Memanfaatkan data dan konten melimpah untuk membiasakan siswa berfikir secara divergen menjadi sangat penting. Terdapat banyak sumber yang bisa kita manfaatkan untuk kegiatan ini, misalnya, koran online, laboratorium online, tutorial suatu kajian di youtube dan lainnya. Mari kita stimulasi mereka bekerja secara kolaboratif dalam kelompok-kelompok virtual. Kerja kelompok secara virtual dengan memanfaatkan Zoom, Webex akan menggairahkan dan menumbuhkan semangat belajar siswa layaknya dalam kelas konvensional.Terdapat saran menarik dari Paul France dalam sebuah artikelnya tentang tips memanusiakan teknologi (www.udutopia.org). Pertama, dia menyarankan untuk keluar dulu dari kurikulum. Ajaklah siswa untuk berfikir kritis dan kreatif dalam menyikapi kondisi yang terjadi dari perspektif yang berbeda (sesuai mata pelajaran). Membuat aktifitas atas proses kritis dan kreatif tersebut dalam bentuk jurnal, tulisan atau produk tertentu untuk kemudian didiskusikan secara bersama. Kedua, ajaklah siswa untuk merenung dan melakukan refleksi individu bagaimana mereka menyikapi belajar online. Apa yang mereka dapatkan dari belajar secara mandiri ini. Hal ini menjadi penting untuk menemukan gaya dan potensi belajar mereka. Akhirnya, kreatifitas kita dalam membelajarkan siswa secara online dengan mempertimbangkan potensi dan gaya belajar akan mendorong lahirnya paradigma pembelajaran yang lebih manusiawi dan bermakna. Semoga.

 

Artikel ini diterbitkan juga oleh Jawa Pos

 

28 Apr 2020

Resiliensi Numero Uno

Data Sekolah

SMAN 1 GLENMORE

NPSN : 20525857

Jl. RS Bhaktihusada, Krikilan Glenmore
KEC. Glenmore
KAB. Banyuwangi
PROV. Jawa Timur
KODE POS 68466

Maps Sekolah